Marhalah Tatsqif Dakwah Nabi Di Makkah
Visi dan misi dakwah Nabi Muhammad saw. adalah visi dan misi jangka panjang. Visi dan misi jangka panjang itu tidak mungkin bisa diwujudkan, jika tidak dijabarkan dan dipendekkan menjadi beberapa marhalah [tahapan]. Mengapa? Karena, visi dan misi ini melibatkan banyak orang. Dengan banyaknya orang, tingkat kesabarannya lebih rentan dibanding dengan satu dua orang. Begitu juga kekuatan berpikirnya.
Sebagaimana yang dituturkan sebelumnya, saat di atas Jabal Ajyad, Nabi saw. bersabda, “Wahai kaum Quraisy, ucapkanlah satu kata, yang jika kalian sanggup memberikannya, maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan orang-orang non Arab akan membayar jizyah kepada kalian.” Mereka bertanya, “Gerangan apakah satu kata itu?” Nabi saw. menjawab, “Ucapkanlah, Lailaha illa-Llah Muhammad Rasulullah.” Sabda Nabi saw. ini merupakan visi dan misi yang hendak diwujudkan. Nabi pun memulai dengan tahapan-tahapan, dengan berbagai aktivitas yang ada di dalamnya.
Tahapan pertama dalam dakwah Nabi adalah Marhalah Tatsqif [pembinaan]. Tahapan ini merupakan dasar dan pondasi. Keberhasilan pada tahapan ini menentukan tahapan berikutnya. Tahapan ini dimulai sejak Nabi saw. mendapatkan wahyu pertama, Q.s. al-‘Alaq hingga Q.s. al-Hijr: 94. Pada tahapan ini, aktivitas pembinaan dilakukan secara tertutup. Dilakukan oleh Nabi dengan fokus memperbanyak hilyah [sel], halqah [sel-sel yang dihimpun dalam kelompok kajian], dan anggota. Pembinaan dilakukan secara umum, yang disebut Tatsqif Jama’i, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Letaknya, di lereng Bukit Shafa, sebelah kanan dari arah Ka’bah.
Selain pembinaan secara umum, untuk meningkatkan kualitas intelektual para sahabat, Nabi saw. menguatkan mental, emosi dan spirit mereka. Di tempat inilah, Nabi saw. membiasakan para sahabat melakukan qiyamu lail. Dari sana terbentuklah kepribadian Islam para sahabat, yang luar biasa. Setelah akliah dan nafsiah Islamnya dibentuk oleh Nabi saw. sedemikian rupa.
Secara khusus dan intensif, pembinaan para sahabat ini juga dilakukan oleh Nabi saw. di rumah-rumah mereka, dengan cara mengirimkan sahabat yang lebih dulu memeluk Islam, atau mendapatkan penjelasan dari Nabi saw. Inilah yang dilakukan oleh Nabi saw. terhadap Sa’id bin Zaid dan Fathimah binti al-Khatthab, adik kandung ‘Umar bin al-Khatthab, di rumah pasangan ini. Ketika Nabi saw. mengirim Hubab bin al-Art untuk membina mereka.
Pada tahapan ini, fokus dakwah Nabi saw. adalah membentuk akliah dan nafsiah Islam para sahabat sehingga terbentuk menjadi kepribadian Islam yang khas, kuat dan tinggi. Seperti apa outputnya? Maka, produk pembinaan Nabi saw. itu tampak dalam dialog Ja’far bin Abi Thalib dengan Raja Najasyi, sebagaimana dinukil oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam, Hidayatu al-Hayara, “Paduka Raja, kami dahulu adalah kaum Jahiliyah, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan perbuatan hina, memutus kekerabatan, berbuat jahat kepada tetanga, yang kuat memakan yang lemah di antara kamu, kami seperti itu hingga Allah SWT mengutus seorang Nabi dan Rasul dari kami, yang kami tahu nasabnya, kejujuran, sikap amanah dan kesucian pribadinya. Beliau mengajak kami untuk menyembah Allah ‘Azza wa Jalla untuk mengesakan-Nya, menyembah-Nya, dan meninggalkan apa yang kami dan nenek moyang kami sembah sebelumnya, selain Dia, seperti batu dan berhala. Beliau memerintahkan kami untuk bertutur kata jujur, menunaikan amanah, menyambung silaturrahim, berbuat baik dengan tetangga, tidak melanggar yang haram, menumpahkan darah, melarang kami melakukan perbuatan keji, berkata bohong, memakan harta anak yatim, menuduh orang baik berzina. Beliau perintahkan kami menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Memerintahkan kami shalat, zakat, puasa, dan haji bagi siapapun yang mampu ke sana.” [Hidayatu al-Hayara, hal. 260]
Inilah produk pembinaan intensif yang dilakukan oleh Nabi saw. Pembinaan ini melahirkan kader-kader dakwah yang ideologis dan militan. Pembinaan ini berhasil membentuk dan mencetak kepribadian Islam yang unik, kuat dan tinggi. Keunikan, kekuatan dan ketinggian kepribadian mereka tampak dari apa yang disampaikan oleh Ja’far kepada Raja Najasyi itu. Semuanya ini tidak lepas dari pembinaan intelektual yang dilakukan oleh Nabi saw. Juga tidak lepas dari materi pemikiran yang ditanamkan kepada mereka.
Ini bisa ditelusuri pada ayat-ayat al-Qur’an, yaitu surat-surat Makkiyah, yang diturunkan sebalum Nabi saw. hijrah ke Madinah. Terutama ayat-ayat dan surat yang turun sebelum Q.s. al-Hijr: 94. Ayat-ayat dan surat yang turun sebelum Q.s. al-Hijr: 94 ini fokus pada pembentukan akidah Islam yang jernih, kuat dan tinggi. Dengan meruntuhkan akidah-akidah yang sebelumnya menjadi keyakinan orang-orang Arab Jahiliyah. Ayat-ayat dan surat yang membahas akidah Islam ini juga dibangun dengan nalar yang bisa mereka cerna dengan mudah.
Coba perhatikan Q.s. al-‘Alaq: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [Q.s. al-‘Alaq: 1-5]. Baca, Q.s. al-Ikhlas, “Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia" [Q.s. al-Ikhlas: 1-4]
Ayat-ayat dan surat Makkiyah seperti ini jumlahnya sangat banyak. Ayat-ayat dan surat ini membentuk akidah Islam yang jernih, kuat dan tinggi. Dengan rasionalitas yang sangat kuat, sesuai dengan fakta, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Itulah ciri akidah Islam yang dibangun oleh Nabi saw. Dengan akidah seperti ini, akliah dan nafsiah para sahabat dibentuk menjadi akliah dan nafsiah Islam yang khas, kuat, tinggi dan luar biasa. Akidah ini tidak saja menjadi pondasi kepribadian mereka, tetapi juga kaidah berpikir mereka, yang membentuk visi, misi dan tujuan hidupnya.
Karena itu, berbagai onak dan duri yang mereka lalui tidak menyurutkan, apalagi membuat mereka meninggalkan Islam dan dakwah. Begitu juga kesuksesan, nikmat harta, tahta dan wanita yang mereka dapatkan kemudian tak membuat mereka kehilangan arah, sehingga melupakan visi, misi dan tujuan utama hidup mereka.
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman