Marhalah Tafa’ul
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman
Setelah Rasulullah saw. melakukan pembinaan secara intensif kepada orang-orang yang telah memeluk Islam, dengan membentuk cara berpikir [akliah] dan nafsiah mereka sehingga menjadi akliah dan nafsiah Islam, maka kepribadian Islam para sahabat itu pun terbentuk dengan kuat. Kepribadian-kepribadian Islam yang kemudian menjadi SDM-SDM dakwah Rasulullah saw. di Makkah.
Tidak hanya itu, mereka juga telah berhasil diikat oleh Nabi saw. dengan ikatan akidah [ideologis], dan menjadi sebuah jamaah [kutlah], dimana Nabi saw. menjadi pemimpin mereka. Ketika semuanya sudah siap, saat itulah, Allah SWT menurunkan Q.s. al-Hijr: 94, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang Musyrik.” Menurut at-Thabari, dalam kitabnya, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, ayat ini turun pada tahun ke-3 kenabian. Ketika itu, ‘Umar dan Hamzah belum masuk Islam.
Dengan turunnya Q.s. al-Hijr: 94 ini, bisa dikatakan, bahwa ini merupakan bidayatu at-tafa’ul [permulaan berinteraksi] dengan umat. Mengapa turunnya Q.s. al-Hijr: 94 ini bisa disebut sebagai permulaan era baru, yaitu bidayatu at-tafa’ul? Karena, meski sebelumnya dakwah sudah dilakukan secara terbuka, tetapi tetap dilakukan dengan kehati-hatian. Terbukti, yang direkrut oleh Nabi saw. tidak semua orang, melainkan orang-orang yang memang sudah dipercaya. Orang yang digunakan untuk merekrutnya pun adalah orang yang dikenal mempunyai pergaulan luas, seperti Abu Bakar as-Shiddiq radhiya-Llahu ‘anhu.
Dalam riwayat lain, ketika ‘Ali bin Abi Thalib datang, saat itu, Nabi saw. dan Khadijah radhiya-Llahu ‘anha sedang shalat, maka ‘Ali berkata, “Wahai Muhammad, apa ini?” Baginda saw. menjawab, “Ini adalah agama Allah, yang Dia angkat untuk diri-Nya, dan dengannya Dia utus Rasul-Nya, maka aku mengajakmu untuk menyembah Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Mengajak untuk beribadah kepada-Nya, serta mengingkari Latta dan Uzza.” ‘Ali lalu berkata, “Ini adalah perkara yang belum pernah aku dengar sebelumnya, sebelum hari ini. Aku bukan pemutus perkara, hingga aku akan menceritakannya kepada Abu Thalib.” Nabi pun tidak berkenan rahasianya disebarkan, sebelum urusannya diperintahkan untuk diumumkan secara terbuka. Sampai harus berpesan, “Wahai ‘Ali, jika kamu tidak mau masuk Islam, sebaiknya tutup mulut.” [Ibn Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz III/24]
Ini menunjukkan, bahwa fase sebelumnya, sebelum turun Q.s. al-Hijr: 94, jelas berbeda, dengan fase setelah ayat ini turun. Pertanyaannya lagi, jika dakwah sebelumnya harus dilakukan terbuka, mengapa Allah SWT. memerintahkan Nabi saw. untuk menyampaikan dakwah secara terbuka? Ini membuktikan, bahwa ada fase baru, yang berbeda dengan fase sebelumnya. Fase ini ditandai dengan aktivitas yang berbeda.
Jika pada fase sebelumnya, Rasulullah saw. dan para sahabat sudah melakukan perang pemikiran [shira’ fikri], mengadopsi beberapa isu dan kasus di masyarakat untuk dijelaskan kesalahannya, dan bagaimana seharusnya menurut Islam [tabanni mashalih al-ummah], itu pun masih bersifat terbatas. Artinya, dilakukan terbatas di kalangan mereka yang sudah memeluk Islam, bukan dilakukan secara demonstratif kepada semua orang. Maka, ketika Q.s. al-Hijr: 94 ini turun, aktivitas shira’ fikri, tabanni mashali al-ummah, bahkan kasyf al-khuthath [membongkar rencana jahat kaum Kafir] dan kifah siyasi [perjuangan politik] dilakukan secara terbuka.
Setelah turun Q.s. al-Hijr: 94, Rasulullah saw. berkumpul dengan para sahabat, mereka mengatakan, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengarkan al-Qur’an disampaikan secara terang-terangan kepada mereka. Lalu, siapa kesatria yang sanggup memperdengarkan al-Qur’an kepada mereka?” ‘Abdullah bin Mas’ud pun menjawab, “Saya.” Para sahabat berkata, “Demi Allah, kami takut mereka akan menyiksa Anda. Kami ingin orang yang mempunyai suku yang bisa melindunginya dari kaum Quraisy, jika mereka hendak berniat jahat kepadanya.” ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Izinkanlah saya, karena Allah pasti akan melindungi saya.” Maka, besoknya ‘Abdullah bin Mas’ud pun membacakan Q.s. ar-Rahman dengan lantang [Ibn al-Atsir, Usdu al-Ghabah fi Ma’rifati as-Shahabah, Juz III/335].
Setelah itu, ‘Abdullah bin Mas’ud benar-benar mengalami penganiayaan, persis seperti yang dikhawatirkan oleh Rasul dan para sahabat. Hebatnya, ‘Abdullah bin Mas’ud tidak pernah gentar. Bahkan, setelah kembali menghadap Nabi saw, ‘Abdullah bin Mas’ud pun menantang kalau ada ayat lain yang lebih keras lagi, maka beliau akan sampaikan kepada mereka dengan lantang. ‘Abdullah bin Mas’ud sendiri kemudian mengabdikan dirinya untuk berkhidmat kepada Nabi saw. Di mana ada Nabi saw. di situ ada ‘Abdullah bin Mas’ud, hingga kemudian diangkat oleh Nabi menjadi pemegang rahasia baginda saw.
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. sebenarnya sudah terlebih dahulu menyampaikan al-Qur’an secara terbuka kepada kaum Quraisy, sebelum ‘Abdullah bin Mas’ud melakukannya. Ini dibuktikan dengan banyaknya riwayat yang menunjukkan, bahwa Nabi saw. telah berdakwah kepada mereka di pasar-pasar, bahkan mengumpulkan mereka di bukit Shafa, atau dalam jamuan-jamuan makan dan sebagainya.
Dalam Musnad Ahmad disebutkan, bahwa ketika Rabi’ah bin ‘Abbad bin Bani ad-Dil masih belum memeluk Islam, atau masih Jahiliyah, dia berkata, “Aku telah melihat Rasulullah, saat aku masih Jahiliyyah, di pasar Dzi Majaz, ketika itu baginda berkata, Wahai manusia, ucapkanlah Lailaha Illa-Llah, maka kalian pasti akan beruntung.” Orang-orang pun berkumpul mengelilinginnya. Di belakangnya ada seorang pria yang wajahnya putih bersih. Dia berkata, “Dia ini orang Shabi’ah, pembohong.” Dia mengikutinya, kemana pun baginda pergi. Aku pun menanyakan tentang dirinya. Mereka berkata, “Ini adalah pamannya, Abu Lahab.” [Imam Ahmad, Musnad Ahmad, Juz III/492]
Begitulah, dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat secara terbuka pada fase Bidayatu at-Tafa’ul ma’a al-Ummah. Meski ini merupakan fase baru, tetapi masih dalam proses menuju pematangan. Pada saat yang sama, di dalam fase ini, kepribadian para sahabat pun ditempa. Tempaan-tempaan ini untuk menguatkan kepribadian Islam mereka, sehingga kualitasnya semakin hebat.
Wallahu a’lam.